Cecep Husni Mubarok

Sukseskan Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar 2013

POPULARITAS TINGGI = ELEKTABILITAS TINGGI ?

Published on: Monday, 7 May 2012 // , , , , , , ,

Popularitas Tinggi, Belum Tentu Elektabilitas, Cecep Husni Mubarok, Rakyat Cirebon


di posting sebelumnya, memuat tulisan saya yang pernah dimuat di media massa. Kini tulisan berikut pernah juga dimuat di surat kabar yang sama dengan sebelumnya, yaitu koran Rakyat Cirebon, seperti biasa yang diposting disini adalah tulisan naskah aslinya, sebelum diedit oleh editor/ redaksi Rakyat Cirebon,hehe


POPULARITAS TINGGI = ELEKTABILITAS TINGGI ?


              Bagai dua sisi mata uang. Pribahasa tersebut mungkin dapat menggambarkan kaitan antara popularitas dengan elektabilitas (keterpilihan atau daya tarik untuk dipilih). Tingkat popularitas seseorang yang tinggi, belum tentu berbanding lurus dengan tingkat elektabilitasnya, namun untuk mencapai tingkat elektabilitas yang tinggi dibutuhkan modal populer atau dikenal di mata masyarakat terlebih dahulu. Jadi, jika seorang kandidat yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, pada saat nanti pemilihan, baik itu pemilihan di tingkat legislatif, ataupun eksekutif seperti presiden dan kepala daerah, belum tentu para pemilih memilih kandidat tersebut, karena modal populer saja tidak cukup, harus diperhatikan juga tingkat elektabilitasnya.
                   Banyak contoh pada pemilu yang telah diselenggarakan di Indonesia, tercatat pada tahun 2009 sejumlah nama artis yang populer gagal melenggang ke senayan menjadi wakil rakyat pada pemilihan anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), seperti pasangan artis Ikang Fawzi-Marissa Haque, Derry Drajat, Mandra, Wulan Guritno, dan masih banyak yang lainnya. Fenomena ini berlanjut pada ajang pemilihan kepala daerah. Di tahun 2010, meski gagal menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014, Ratih Sanggarwati yang merupakan mantan peragawati terkenal hanya mampu menempati posisi urutan ke-3 pada pemilihan Bupati di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.  Begitu pun Andre Taulany, mantan vokalis band Stinky yang kini terkenal sebagai pelawak di salah satu acara sebuah stasiun televisi swasta, harus mengakui keunggulan pasangan Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie, pada pemilihan kepala daerah Kota Tangerang Selatan, Banten, serta masih banyak contoh di kalangan artis lainnya yang belum mampu berbicara banyak di kancah politik Indonesia.
                   Fenomena banyaknya kandidat yang maju pada suatu pemilihan, yang lebih mengandalkan popularitas semata, secara tidak langsung menunjukan kurang berjalannya sistem pengkaderan di tingkat partai politik, sehingga partai menjadi kurang percaya diri untuk mencalonkan kader di lingkungan internalnya. Jangan sampai ada dugaan, ada pihak yang hanya aji mumpung, dengan memanfaatkan ketenaran seseorang. Alangkah baiknya jika sistem menjaring kandidat secara ketat, agar mampu menghasilkan kandidat yang telah teruji kualitasnya.
                   Di lingkungan masyarakat pun kini masih banyak pemikiran yang cenderung memilih kandidat berdasarkan popularitasnya saja. Pendapat tersebut  dikemukakan oleh Gary C Jacobson, profesor Ilmu Politik dari Universitas Califonia, Amerika Serikat, dalam bukunya yang berjudul “The Politics of Congressional Elections”, menyebutkan bahwa ada kecenderungan kuat di kalangan para pemilih dimana mereka lebih menyukai kandidat yang populer. Hal inilah yang semestinya harus diubah, jangan hanya memilih berdasarkan suka atau tidak suka, tapi sebagai pemilih yang baik harus mampu menilai seorang kandidat dengan seobjektif mungkin, dengan menilainya dari berbagai aspek.

JADILAH PEMILIH CERDAS
                   Kini, para pemilih dituntut semakin cerdas dan kritis dalam memilih kandidat, penilaian tidak hanya dilihat dari sisi popularitasnya saja, namun banyak aspek yang mesti dilihat dan dinilai oleh para pemilih. Seperti aspek kompetensi, kapasitas, kapabilitas (kemampuan), kepemimpinan, track record (rekam jejak) yang baik, integritas, loyalitas, serta visi-misi yang jelas,  mutlak harus dimiliki oleh seorang kandidat yang mencalonkan diri, karena aspek-aspek tersebut nantinya akan dinilai oleh masyarakat luas sebagai dasar penilaian dalam memilih.
                   Kritisi setiap janji-janji kampanye yang dilontarkan oleh para kandidat. Berperan aktif dalam mengawal pemilihan, hindari berbagai intrik politik yang menyesatkan, waspada terhadap adanya serangan fajar dan money politic, serta jangan rela suara kita digadaikan demi kepentingan sesaat.
                   Dalam islam, kita harus memilih pemimpin yang shidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas), tabligh (menyampaikan), serta menguasai keahlian dalam memimpin, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.”  Ada seorang sahabat bertanya : “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?” Nabi menjawab : “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari).
                   Kandidat yang baik jangan hanya mengandalkan popularitas semata, untuk meningkatkan elektabilitasnya di mata para pemilih, haruslah jujur, bersifat amanah, cerdas dalam menyelesaikan masalah,  komunikatif dengan masyarakat, senantiasa mengasah keahliannya dalam memimpin, menjadi teladan bagi masyarakat, bekerja nyata dalam memajukan bangsa dan daerahnya, mengutamakan kepentingan masyarakat, merangkul semua golongan masyarakat, serta memperkuat basis dukungan di akar rumput.
                   Pada akhirnya, kandidat yang berkompeten dan berkualitas serta pemilih yang cerdas dan kritis tiada lain akan bermuara pada meningkatnya kualitas demokrasi serta pemilihan umum di Indonesia, serta mampu menghasilkan para pemimpin yang sesuai dengan hati nurani masyarakat. Kenali pilihan kita, pilihlah pemimpin yang berjuang untuk rakyat,  jangan membeli kucing dalam karung!

0 comments for "POPULARITAS TINGGI = ELEKTABILITAS TINGGI ?"

Leave Reply

Feed!

Download Desain

RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!
Feed!
Feed!